Bung Hatta
Bung Hatta, lahir di sebuah rumah kayu bertingkat dua di Aur Tajungkang Mandianin, Bukittinggi. Di sinilah Saleha Djamil melahirkan Mohammad Hatta pada 12 Agustus 1902. Di sini pula Saleha dan suaminya Mohammada Djamil mepertautkan bayi itu dengan Tanah Minang, dengan garis darah sebuah keluarga terpandang. Hatta memang lahir dari perpaduan dua keluarga terkemuka; pemuka agama dan saudagar.
Mohammad Hatta merupakan seorang penulis. Hatta menulis pertama kali ketika berusia 18 tahun. Dia aktif menulis dalam majalah yang diterbitkan partainya: Daulat Ra’jat. Lampau dan Datang, di samping Demokrasi Kita, juga menjadi jendela yang baik bagi ratusan artikel dan puluhan buku yang pernah ditulis Hatta sepanjang hayatnya. Hatta meninggalkan “30 ribu judul buku” dalam perpustakaannya. pena adalah senjata dia untuk memerdekakan bangsanya.
Bakat menulisnya, dan timbunan bacaannya, kian meluap ketika Hatta kuliah di Negeri Belanda. Buku dan perpustakaan tetap menjadi pusat hidupnya. Tapi Hatta bukan cendekiawan di menara gading. Di jantung kekuasaan kolonial itu, dia ikut mengubah watak Indische Vereeniging, perhimpunan mahasiswa Hindia, yang semula lebih bersifat sosial, menjadi gerakan politik perlawanan. Hatta dan teman-teman bahkan menjadi kelompok pertama pemuda yang memperkenalkan kata “Indonesia” dalam pengertian geopolitik, yakni ketika mereka mengubah nama perhimpunan itu dari Indische menjadi Indonessiche Vereeniging. Akibat tulisan-tulisannya yang tajam mengkritik pemerintah colonial, Hatta ditahan pada 1927. Dia tidak surut. Dari ruang penjara yang sempit, dia menulis pidato pembelaan yang nantinya akan dia bacakan selama tiga setengah jam di depan pengadilan. Judul pidato itu, “Indonesia Vrij” (Indonesia Merdeka).
Hatta adalah orator besar seperti halnya Soekarno. Tapi bukan lewat pidato dengan suara baritone yang penuh wibawa, melainkan lewat tulisan-tulisannya yang tajam dan menggetarkan. Setelah kemerdekaan, Hatta lebih bertindak sebagai seorang administrator, yang mencoba menerapkan pengalaman akademisnya yang luas kea lam nyata. Dia terlibat dalam penyusunan konstitusi dan menyumbangkan beberapa pasal penting, seperti “hak berkumpul dan berserikat”, yang dua-duanya “penguasaan negara atas sumber daya alam”, yang dua-duanya mencerminkan kepeduliannya pada kedaulatan rakyat serta kehidupan ekonomi mereka.
Dalam akhir risalah Demokrasi Kita, Hatta mengutip kalimat penyair Jerman, Schiller: “Suatu abad besar telah lahir. Namun, ia menemukan generasi kerdil.” Itu adalah kalimat kritik Hatta terhadap para pemimpin partai politik di masa itu, yang dianggap gagal melaksanakan tugasnya sebagai pemimpin bangsa. Itu adalah kritik terbesar Hatta kepada pasangan Dwitunggalnya, Soekarno. Dan sepertinya, kritik Hatta ini masih berlaku untuk Indonesia masa kini, yang tengah mengalami krisis kepemimpinan.
Bagi Bung Hatta, kewajiban utama seorang pemimpin adalah membaca perasaan rakyat dan memberikan jalan kepada perasaan itu. Seorang pemimpin harus bisa menangkap persoalan rakyat dari yang terkecil hingga terbesar. Juga mengetahui persoalan masih terpendam. Karena hatta menyadari bbahwa rakyat yang bodoh sekalipun masih punnya kemauan dan tujuan. Rakyat yang pasif pun sebetulnya masih punya harapan dan cita-cita. Oleh karena itu kata Bung Hatta, seorang pemimpin harus bisa membaca perasaan rakyat, menggerakkan massa yang sulit bergerak sendiri, dan menyuluhi jalan pembebasan rakyat yang masih gelap. Pendek kata, pemimpin harus mengemudikan apa yang dikehendaki oleh rakyat.
Bung Hatta menjelaskan, sebelum pemimpin pergerakan muncul, yang menjadi penyelamat rakyat adalah kaum terpelajar. Mereka merasa iba dengan nasib massa rakyat. Dari situlah kaum terpelajar menjadi pemula dan penyuluh lahirnya pergerakan rakyat, seperti dalam sejarah Bangsa Indonesia. Kaum terpelajara pula yang membuka mata rakyat. Kalau mata rakyat sudah terbuka, tugas selanjutnya adalah mengubah individuale actie menjadi massa actie (aksi orang banyak yang tersusun dalam satu bbdan). Disitulahh muncul organisasi sebagai pengikat massa. Di situ pula muncuk psikologi kolektif alias “kemauan bersama”.
Dari perjalanan kisah dan gagasan kepemimpinan Bung Hatta, kita dapat mengambil banyak teladan darinya. Sebagai seorang pendidik, lebih tepatnya calon pendidik kita hendaknya membuka lapangan pendidikan seluasnya-luasnya, memudahkan anak-anak/rakyat yang memiliki keterbatasan ekonomi dalam mengenyam pendidikan, memberikan pelayanan yang layak dalam pendidikan, serta menjadikan pendidikan sebagai fokus utama dalam membenahi negara dari kerusakan.
Komentar