Postingan

Puisi Ibu

KERINDUANKU Karya: Sri Wahyuni   Kala Sang Surya tenggelam Aku termenung di bawah sinar Rembulan Menatap bintang dengan penuh pengharapan Menyapa langit dengan penuh keinginan Hayalku kian berlabuh Menyelami palung bayangan yang keruh Menyusuri tapak yang tak lagi nampak Sebab takdir yang tak dapat dielak Kala daksanya tak lagi bergerak Kalbuku berteriak Air mataku mengalir deras Memandanginya tanpa puas Beribu tanya menyelimuti akalku Merasa ragu akan pandanganku Melihatnya yang terbaring lesu Laksana dedaun nan layu Mah ... Aku merasa sakit Bak tersayat oleh arit Semua begitu pahit Ingin rasanya ku menjerit Mah ... Rindu ku kian meronta Kapan kita kembali bersua ? Bercengkrama mengundang gelak tawa Bersama-sama menepis setiap luka Mah ... Atmaku selalu pilu Kalbuku selalu sendu Hariku menjadi kelabu Tanpamu aku layaknya debu Namun, Mah ... Kendati daksa kita terpisah Dimensi ruang telah berubah Jasamu akan selalu menjadi sejarah Yang tak akan pernah musnah Wajahmu yang berseri Ka...

Anekdot

 DPR Pemakan Uang Rakyat Di sebuah kampung akan mengadakan acara syukuran dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI. Acara tersebut dilakukan dengan cara mengadakan pesta makan besar-besaran. Dalam acara itu dihadiri oleh para anggota DPR. Bapak RT sudah mengatur dan menyiapkan hal itu sebelumnya. Hingga, tidak terasa Hari Kemerdekaan pun tiba. Semua perlengkapan sudah tersedia. Tidak lama kemudian, para anggota DPR pun datang. Warga menyambutnya dengan senang hati dan penuh suka cita. Kemudian, mereka semua langsung makan bersama. Setelah semua makanan habis, tiba-tiba semua warga berlari terbirit-birit memasuki rumah mereka masing-masing dan menutupnya rapat-rapat. Pak RT dan para anggota DPR heran, melihat tingkah warga yang aneh seperti itu. Keesokan harinya, Pak RT menanyakan kejadian kemarin kepada warganya. Kemudian warganya menjawab, "Waktu itu, makanan sudah habis. Kami takut para anggota DPR akan memakan uang kami juga. Karena itu kami berlari ke rumah dan menjaga ua...

Puisi Negara

 MALANGNYA NEGERIKU Karya: Sri Wahyuni Berabad-abad sudah Negeriku dijajah Banyak darah yang tumpah Banyak daksa yang musnah Cukup sudah negeriku ditindas Cukup sudah bangsaku ditebas Jangan lagi ada penindas Jangan lagi ada penebas Walau merdeka telah digenggam Namun hak-hak masih tercengkram Kewajiban masih saja terbengkalai Oleh oknum-oknum yang lalai Hak didik kian melemah Sebab biaya yang terbilang wah Akibat adanya para penjilat Yang membiarkan rakyat sekarat Wahai para penguasa Berhentilah memeras bangsa Memakan habis hak-hak generasi muda Membabad akal anak bangsa Untukmu para penguasa Ingatlah para penguasa Akan tiba saatnya Kau jatuh dari tahta

Puisi Cita-cita

SEJAUH ANTARIKSA Karya: Sri Wahyuni Syairan burung mulai terdengar Tanda malam telah usai Sang fajar pun tersenyum riang Menatapku dibalik tirai Perlahan, daksa ku gugahkan Atma ku gairahkan Semangat ku kobarkan Demi asa yang tak pernah pudar Derap kaki yang tak pernah henti Menelusuri arah yang pasti Kendati rintik menggelitik Terik kian mencabik Namun kalbu selalu menggebu Tuk gapai asa tanpa ragu Saban masa ku kuatkan tekad Saban masa ku bulatkan niat Ku kerahkan segala karsa Tuk asa sejauh antariksa Kendati asumsi mereka mengkerdilkan Menggerutu seakan meruntuhkan Namun selalu ku tulikan pendengaran Ku butakan pandangan Dan ku fokuskan tujuan Tuk asa sejauh antariksa Syukurku ucapkan Pada Sang Penguasa Jagat Raya Yang telah menganugrahkan kekuatan Tuk tetap gigih menggapai asa

Bung Hatta

Bung Hatta, lahir di sebuah rumah kayu bertingkat dua di Aur Tajungkang Mandianin, Bukittinggi. Di sinilah Saleha Djamil melahirkan Mohammad Hatta pada 12 Agustus 1902. Di sini pula Saleha dan suaminya Mohammada Djamil mepertautkan bayi itu dengan Tanah Minang, dengan garis darah sebuah keluarga terpandang. Hatta memang lahir dari perpaduan dua keluarga terkemuka; pemuka agama dan saudagar.  Mohammad Hatta merupakan seorang penulis. Hatta menulis pertama kali ketika berusia 18 tahun. Dia aktif menulis dalam majalah yang diterbitkan partainya: Daulat Ra’jat. Lampau dan Datang,  di samping Demokrasi Kita, juga menjadi jendela yang baik bagi ratusan artikel dan puluhan buku yang pernah ditulis Hatta sepanjang hayatnya. Hatta meninggalkan “30 ribu judul buku” dalam perpustakaannya. pena adalah senjata dia untuk memerdekakan bangsanya. Bakat menulisnya, dan timbunan bacaannya, kian meluap ketika Hatta kuliah di Negeri Belanda. Buku dan perpustakaan tetap menjadi pusat hidupnya. Tap...